Kamis, 13 September 2018

Katanya



Katanya ikan itu bukan hewan
Katanya koruptor itu bagian dari keluarga tikus
Berarti pas sudah
Kita masukkan koruptor ke dalam
Kemudian keluarkan ikan dari dalam

Bingung sudah kerajaan hewan

Kata ibuku dunia ini semakin gila
Manusianya ...

Kata ibuku sudah saatnya kita bertanya
Kita yang waras terjebak dalam kegilaan
Atau kita yang gila di antara manusia waras

Kehabisan Kata

Sejak kau mendapat tempat di hatiku
Aku tak pernah lagi menulis sajak untuk diriku sendiri
Tak pernah

Bahkan saat kisah pilu seorang kawan mampu getarkan tanganku tuk menyulam kata
Kisah penuh rona mekarku tak sedikitpun gerakkan pena

Aku kehabisan kata
Betapa sedih dan bahagia apa yang ada di antara kita
Aku kehabisan kata
Entah apa yang menyimpan dalam-dalam rasa yang membuncah di dada

Meski hati tahu tak kan mampu menyimpan terlalu lama
Meski tubuh tahu tak kan mampu menderita sendirian
Tapi kubiarkan ragaku dirajut luka
Kubiarkan jiwaku menjerit pelan

Aku mencintaimu
Selebihnya aku kehabisan kata
Tentang senyummu, tentang harapanmu, dan tentang lakuanmu
Tentang sayap yang kau berikan padaku dan tentang pisau tajam yang kau biarkan menusukku

Aku mencintaimu
Selebihnya aku kehabisan kata
Kubiarkan punggungmu yang semakin jauh, ku yakin kau akan pulang
Kubiarkan mulutku bicara, kubiarkan kau mentatah, dan kubiarkan luka menggoresku perlahan

Aku mencintaimu
Selebihnya aku kehabisan kata
Aku tak pernah tahu harus berkata apa ketika mereka bertanya tentang ada mu
Tak pernah kubiarkan kalimat itu meluncur dari mulutku
Meski hanya itu yang kutahu

Aku mencintaimu
Seperti merpati putih yang ditinggal pasangannya terbang
Seperti angsa yang menunggu di atas air danau yang tenang
Seperti serigala yang memecah malam dengan suaranya kemudian pulang ke sarang

Aku mencintaimu
Dan aku tak pernah mengatakannya
Karena keikhlasanku mungkin kebodohan bagi anggapan mereka

Aku mencintaimu
Aku tak mengejarmu, tak pula mencari-cari keberadaanmu
Karena Tuhan belum tunjukkan kau milikku

Aku mencintaimu
Cinta akan selalu pulang pada tempatnya
Selebihnya aku kehabisan kata


-nda

Hari ini angin berhembus di sampingku

      
                       Hari ini angin berhembus di sampingku


Hari ini angin berhembus di sampingku
Memang tak seperti adegan film yang dapat menerbangkan topiku
Hari ini angin berhembus di dalam tubuhku
Aku merasakannya walau kau tak tahu

Hari ini angin berhembus di sampingku
Ketika aku sempat ragu pada kebetulan dalam hidupku
Hari ini aku hanya berpura-pura tak tahu
Bahwa angin menantangku untuk membuktikan raguku

Hari ini angin berhembus di sampingku
Menyampaikan suara meski tak bergetar sedikitpun pita suaraku
Memberi kesempatan pada hati yang mengombak dan berdesir malu
Bahwa dalam eterna begitu banyak jalan untuk dapat bersatu

Hari ini angin tidak berhembus di sampingku
Di saat sekali-sekali biar kutulis sajak yang tak berakhir sedih melulu
Kuberitahu, angin tidak berhembus di sampingku
Hari ini angin berhembus di antara kita



-nda

Waktu

Bukannya waktu tak berpihak
Kita hanya terlalu sering menengok
Berpaling meski sesaat
Berkelana mengejar yang tak pasti
Meninggalkan yang sejengkal saja untuk diraih

Menunggu kembali dan bertanya lagi
Mengapa waktu tak seringkali tiba di saat yang tepat
Mungkin saja takdir tak berkehendak
Ataukah sekali lagi hanya karena kita melewatkannya

Maka rindu yang bertanya
Kembali menunggu meski telah lama dipermainkan waktu
Berulangkali meski tersakiti
Berulangkali meski terkhianati waktu

Mengakui betapa berat
Mengakui betapa pedihnya
Namun hati menuntut dan belum bersedia menyerah
Keharusan untuk tetap menunggu

Karena waktu
Bukannya waktu tak berpihak padaku
Hanya diriku yang terlalu sering berpaling dari situ
Terlalu sering mengabaikan kesempatan yang nyata padamu



-nda

Kangen



Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta


kau tak akan mengerti segala lukaku


karena cinta telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.


Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan.

Engkau telah menjadi racun bagi darahku.


Apabila aku dalam kangen dan sepi


itulah berarti...

aku tungku tanpa api.


-WS. Rendra

Dev



Cobalah engkau beranjak dari kursi
Pergilah ke cermin
Tataplah wajahmu, badanmu, pakaianmu
Dan seluruh penampilanmu
Setidaknya engkau bisa menyadari satu hal saja :
Bahwa potongan rambutmu
yang seperti itu
Jenis dan warna baju dan celanamu
Juga seluruh benda yang menempel di badanmu
-semoga aku suka-

Sekali lagi, cobalah engkau buka hp mu
Pergi carilah youtube
Buka banda neira. Sampai jadi debu
Pasang headset
Dengarkan dan bacalah surat ini :)

Momen momen
Tidak dapat diulang
Nikmati, rasakan
Jangan disesali, jangan membenci.

-Depan-

Tidak Mahir



Aku tidak mahir mengejar
Tapi aku tahu cara menunggu

Aku tidak mahir berkata-kata
Tapi aku tahu cara mendoakanmu

Aku tidak mahir memberi saran
Tapi aku tahu cara mendengarkanmu

Aku tidak mahir melawak
Tapi aku tahu cara membuatmu bahagia

Aku tidak mahir memimpin
Tapi aku tahu cara menuntunmu

Aku tidak mahir rela mati
Tapi aku tahu cara hidup denganmu

Aku tidak tahu dimana ujung perjalanan ini
Aku tidak bisa menjanjikan apapun

Tapi, selama aku mampu
Mimpi-mimpi kita adalah prioritas

-Fiersa Besari

Kamis, 30 Agustus 2018

Mencintaimu Sederhana

                                 Aku ingin mencintamu dengan sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni

                                                                   Hujan Bulan Juni



Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu dijalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

-Sapardi Djoko Damono


Aku Bicara Perihal Cinta

 Aku Bicara Perihal Cinta

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
 
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia
kan menyalibmu.
 
Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu,
demikian pula dia ada untuk pemangkasanmu.
Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu,
dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
 
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu,
dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.
Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.
Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta,
supaya bisa kaupahami rahasia hatimu,
dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.
 
Namun pabila dalam ketakutanmu,
kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.
Maka lebih baiklah bagimu,
kalau kaututupi ketelanjanganmu,
dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.
Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa,
tapi tak seluruh gelak tawamu,
dan menangis,
tapi tak sehabis semua airmatamu.
 
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri,
dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki,
pun tiada ingin dimiliki;
Karena cinta telah cukup bagi cinta.
 
Pabila kau mencintai kau takkan berkata,
TUHAN ada di dalam hatiku,
tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati TUHAN”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta,
sebab cinta,
pabila dia menilaimu memang pantas,
mengarahkan jalanmu.
 
Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya.
Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan,
biarlah ini menjadi aneka keinginanmu:
Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali,
yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.
 
Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan,
dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;
Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;
Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu,


-Kahlil Gibran

Hujan

                                                                              Hujan


Aku suka hujan
Bagiku hujan itu indah,
Aku merasa berarti saat aku sendirian.

Tak perlu banyak bicara meskipun dalam keramaian
Aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri
Tak perlu malam menjemput mimpi
Dan, tak perlu juga pagi menjemput
Apa yang bisa dipelajari dari hujan?
Dari hujan kita tahu bahwa air hujan
Berkali-kali jatuh tanpa mengeluh takdirnya.

Dari hujan aku belajar bahasa air
Bagaimana berkali-kali jatuh
Tanpa, sedikitpun mengeluh pada takdir

Aneh, memang : selalu ada yang membuat terlena
Dan tak berdaya pada hujan,
Pada rintik dan aromanya,
Pada bunyi dan melankolinya
Pada caranya yang pelan sekaligus brutal
Dalam memetik kenangan yang tak diinginkan.

-nda

Egois

                                                                           Egois

Jangan membuat aku egois
Jangan sering kau mengatakan
Aku merindukanmu, karna
Akupun demikian
Sengaja atau tidak kau membuatku
Menuntut kita bertemu
Menceritakan keluh kesah keseharian
Namun aku ingin ikhlas merindukanmu
Meskipun tidak bertemua
Aku tak apa
Kenyataannya tidak,
Otak ku besikeras ingin bertemu denganmu
Namun, hatiku ingin ikhlas
Tiap hari hatiku menjadi kuat
Kuat menahan rindu yang enggan untuk bertemu
                                                                                                                                       31/8/2018
-nda

Enggan Datang

Hai, bukalah pintu rumahmu
Aku datang malam ini
Membawa sepotong kue cemas
Makanlah, di dalamnya kan kau temukan
Ada tangisku yang merekah
Sedihku yang terbalut krim manis kue itu

Hai, duduklah sebentar
Aku datang malam ini
Sambil menyajikan secangkir perasaanku
Dengan gula gula tawa
Dengan kelat sedihku
Teguk dan kita tersenyum bersama

Hai, kemarilah sejenak
Boleh aku menangis?
Boleh aku tertawa?
Dihadapanmu dan karenamu
                                                           31/08/2018
-nda

Monolog


                               Monolog
Aku dengan segala ke akuanku
Aku si manusia abu abu
Pengalamanku kurang, aku abu abu
Aku pemeriksa, menekan
Munafik, obsesif, kompulsif
Aku terbuka, memperdebatkan pendapat
Menyudutkan orang lain
Aku abu abu
Ilmu ku salah gunakan
Kuperdebatkan diantara orang awam
Kujadikan ajang pembuktian
. . .
Aku belum menemukan sifat tuhan pada diriku
Seringkali membuat dosa membuat doa
Setengah manusia setengah binatang
Tingkah laku ku representative diriku
Kau yang menilai, kini topengku tanggalkan
Untuk kau. Kartini-ku
Ijinkan ku pergi sebentar
Untuk sepekan atau sebulan
Ku ingin lebih mengenal diriku
Naan arrafa nafsahu
Faqad arrafa rabbahu...

                                        Surabaya, 23/juli/2018
-Depan-

Absurd

Cobalah engkau beranjak dari kursi
Pergilah ke cermin
Tataplah wajahmu, badanmu, pakaianmu
Dan seluruh penampilanmu
Setidaknya engkau bisa menyadari satu hal saja :
Bahwa potongan rambutmu
yang seperti itu
Jenis dan warna baju
dan celanamu
Juga seluruh benda yang
menempel di badanmu
-semoga aku suka-

Sekali lagi, cobalah engkau buka hp mu
Pergi carilah youtube
Buka banda neira. Sampai jadi debu
Pasang headset
Dengarkan dan bacalah surat ini :)

Momen momen
Tidak dapat diulang
Nikmati, rasakan
Jangan disesali, jangan membenci.

-Depan-

Semoga

Aku ingin melamar bulan
Mengencani bintang
Melihat nirwana
Berdansa di tata surya
Menyantuni cuaca bercerita

Bahwa kau alam semesta alam terindah
Yang pernah ada

Aku manusia biasa, semuanya biasa
Terkadang aku menyerah ;
tak percaya diri dan takut
Aku biasa, sedang kau...
Aku takut, takut
Ketika senyum itu tak lagi untukku

Sepintar atau seyogya apa aku
Merapal kata kata rindu atau sayang
Aku tak akan pernah bisa membuatmu
Menetap utuh

Kembali lagi, kepadamu
Kembali lagi, kutawarkan
Seromantis bulan dan matahari.
Ku tau akan, maukah kau tetap denganku?
Dengan kesederhanaanku?
Dengan kelemahanku?
Dengan acuh tak acuhku?
Semoga...
-depan-

Rabu, 29 Agustus 2018

Pelangi Kontemporer

Bolehkah, aku bercerita
Aku sedang tidak sehat, puan
Semalam aku di sapa pelangi di pinggir jalan.


Ditengah malam, dibawah lampu penerangan
Aku takut, cemas, curiga.
Mengapa?
Pelangi ini punya banyak wajah


Ku takut lagi puan
Pantaskah aku menemani
Pelangi kontemporer ini


Atau mungkin, kumonopoli saja
Ku bawa pulang
Ku buatkan rumah
Ku ajari bahagia
Ku ajari senang
Ku ajari mengeja rasa


Agar pelangi ini lupa bahwa dia sementara
Minggu malam 23.00
-Depan