Sejak kau mendapat tempat di hatiku
Aku tak pernah lagi menulis sajak untuk diriku sendiri
Tak pernah
Bahkan saat kisah pilu seorang kawan mampu getarkan tanganku tuk menyulam kata
Kisah penuh rona mekarku tak sedikitpun gerakkan pena
Aku kehabisan kata
Betapa sedih dan bahagia apa yang ada di antara kita
Aku kehabisan kata
Entah apa yang menyimpan dalam-dalam rasa yang membuncah di dada
Meski hati tahu tak kan mampu menyimpan terlalu lama
Meski tubuh tahu tak kan mampu menderita sendirian
Tapi kubiarkan ragaku dirajut luka
Kubiarkan jiwaku menjerit pelan
Aku mencintaimu
Selebihnya aku kehabisan kata
Tentang senyummu, tentang harapanmu, dan tentang lakuanmu
Tentang sayap yang kau berikan padaku dan tentang pisau tajam yang kau biarkan menusukku
Aku mencintaimu
Selebihnya aku kehabisan kata
Kubiarkan punggungmu yang semakin jauh, ku yakin kau akan pulang
Kubiarkan mulutku bicara, kubiarkan kau mentatah, dan kubiarkan luka menggoresku perlahan
Aku mencintaimu
Selebihnya aku kehabisan kata
Aku tak pernah tahu harus berkata apa ketika mereka bertanya tentang ada mu
Tak pernah kubiarkan kalimat itu meluncur dari mulutku
Meski hanya itu yang kutahu
Aku mencintaimu
Seperti merpati putih yang ditinggal pasangannya terbang
Seperti angsa yang menunggu di atas air danau yang tenang
Seperti serigala yang memecah malam dengan suaranya kemudian pulang ke sarang
Aku mencintaimu
Dan aku tak pernah mengatakannya
Karena keikhlasanku mungkin kebodohan bagi anggapan mereka
Aku mencintaimu
Aku tak mengejarmu, tak pula mencari-cari keberadaanmu
Karena Tuhan belum tunjukkan kau milikku
Aku mencintaimu
Cinta akan selalu pulang pada tempatnya
Selebihnya aku kehabisan kata
-nda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar